Monday, 11 December 2017

Appendiks : Elastisitas

Posted by de Fairest at 22:43
Pasar bukanlah tempat yang diam atau statis. Pasar adalah tempat yang mempunyai sifat dinamis di mana segala sesuatunya selalu bergerak dan berubah-ubah. Konsumen sebagai pelaku pasar mempunyai berbagai macam keinginan dan kebutuhan, dan ini juga berubah-ubah. Pelaku pasar lainnya, yaitu produsen, juga harus bertindak mengikuti situasi pasar dan kebutuhan konsumen. Sebagai akibatnya, permintaan dan penawaran akan barang dan jasa, berikut harga, juga senantiasa berubah. 
Untuk lebih memahami situasi pasar, dan untuk dapat melakukan prediksi terhadap berbagai tindakan maupun keputusan yang diambil oleh produsen dan konsumen, kita perlu mengetahui kaitan dan sifat perubahan dari permintaan, penawaran, dan harga itu sendiri. Ini dapat dilakukan antara lain dengan memahami konsep elastisitas. Elastisitas (elasticitv) merupakan ukuran sejauh mana pembeli dan penjual bereaksi terhadap perubahan kondisi yang ada.

Di dalam ilmu ekonomi dikenal dua macam elastisitas, yaitu elastisitas permintaan (demand elasticity), dan elastisitas penawaran (supply elasticity). Oleh karena itu, mari kita bahas dua konsep tersebut. 

ELASTISITAS PERMINTAAN

Coba perhatikan situasi di berbagai pasar tradisional, juga pusat perbelanjaan atau mal dari hari ke hari. Apa yang terjadi ketika harga-harga naik? Dan apa yang terjadi ketika toko-toko dan penjual melakukan obral (sale) atau memberikan potongan harga (discount) besar-besaran, misalnya pada saat menjelang Lebaran atau Natal?

Sejumlah jenis barang mungkin mengalami lonjakan ataupun penurunan permintaan yang cukup besar. Namun beberapa jenis barang lainnya mungkin tidak terlalu terpengaruh penjualannya. Inilah yang disebut dengan elastisitas permintaan. Bila didefinisi- kan, elastisitas permintaan adalah besar- perubahan pemintaan yang terjadi sebagai akibat darj pembahan harga. Sebuah permintaan dikatakan elastis jika kuantitas barang yang diminta akan berubah banyak akibat harga berubah. Sebaliknya, permintaan dikatakan inelastis bila kuantitas barang yang diminta hanya sedikit berubah akibat harga berubah.

Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi elastisitas permintaan.
  1. Posisi suatu barang atau jasa dalam tingkatan kebutuhan manusia, apakah kebutuhan primer, sekunder, atau tersier.
    Semakin tinggi posisi produk dalam tingkat intensitas kebutuhan, maka permintaannya semakin inelastis. Misalnya saja, beras di Indonesia. Apabila harga beras naik atau turun, permintaannya tidak terlalu terpengaruh, karena beras bagi orang Indonesia adalah kebutuhan pokok atau primer, dan dikonsumsi setiap hari. Lain halnya dengan mobil. Apabila harga mobil naik, permintaannya cenderung turun, karena mobil tergolong kebutuhan sekunder, atau bahkan tersier, tergantung tingkat pendapatan konsumennya.
  2. Ketersediaan barang substitusi.Apabila suatu produk mempunyai substitusi atau penggantinya, maka permintaan produk tersebut cenderung elastis. Ini disebabkan karena apabila harga produk tersebut naik, konsumen dapat membeli produk lain yang menjadi substitusinya. Teh, misalnya, merupakan substitusi dari kopi. Ketika harga teh naik, konsumen dapat beralih ke kopi. Dengan demikian kita dapat mengatakan permintaan teh cenderung elastis.
  3. Besarnya persentase dari pendapatan konsumen yang dibelanjakan untuk membeli suatu barang. Bila persentase pendapatan konsumen yang digunakan untuk membeli barang tersebut tidak begitu besar, maka perubahan harga tidak akan begitu mempengaruhi jumlah permintaan, sehingga permintaan sifatnya inelastis.
Koefisien elastisitas permintaan (Ed) dapat kita perhitungkan menggunakan rumus sebagai berikut.
Rumus Koefisien Elastisitas Permintaan
TINGKAT ELASTISITAS PERMINTAAN 

Penghitungan koefisien elastisitas permintaan mempunyai lima kemungkinan hasil. Lima kemungkinan hasil itu adalah sebagai berikut.

  1. Permintaan Elastis.
    Situasi ini terjadi apabila nilai koefisien elastisitas permintaan lebih besar dari satu. Ini terjadi bila persentase perubahan permintaan lebih besar djrijejrsentasj perubahan harga. Sebagai contoh, harga tas di sebuah toko turun dari Rp 15.000 menjadi Rp 14.000, dan jumlah permintaan terhadap tas tersebut naik dari 1.000 menjadi 3.000. 
  2. Permintaan Inelastis.
    Situasi ini terjadi apabila nilai koefisien elastisitas permintaan kurang dari satu. Ini terjadi bila persentase lebih kecil dari persentase perubahan harga. Sebagai contoh, harga tepung terigu di suatu daerah naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.000 per kilogram, dan jumlah permintaan turun dari 500 kg menjadi 450 kg. 
  3. Permintaan Elastis Uniter.Artinya, situasi ini terjadi apabila nilai koefisien elastisitas permintaan sama dengan satu. Ini terjadi bila persentase perubahan permintaan sama dengan persentase perubahan harga Sebagai contoh, harga sebuah handphone turun dari Rp 1.500.000 menjadi Rp 1.450.000. Sebagai akibatnya, permintaan naik dari 30.000 menjadi 31.000. 
  4. Permintaan Elastis Sempurna. Situasi ini terjadi apabila nilai koefisien elastisitas permintaan sama dengan tidak terhingga. Ini terjadi bila jumlah permintaan tidak terbatas pada tingkat harga tetap. Situasi seperti ini dapat kita temukan pada pasar BBM. Permintaan terhadap BBM akan selalu terjadi pada tingkat harga tertentu. 
  5. Permintaan Inelastis Sempurna.Situasi ini terjadi apabila nilai koefisien elastisitas permintaan sama dengan nol. Ini terjadi bila jumlah permintaan selalu tetap pada tingkat harga berapapun. Sebagai contoh, harga cabe merah pada sebuah pasar tradisional di suatu daerah yang selalu berubah-ubah setiap minggunya, antara Rp 7.000 sampai Rp 10.000, namun jumlah permintaan yang terjadi selalu sama, yakni dua ton per minggu.
Penghitungan koefisien elastisitas permintaan sebagai berikut

ELASTISITAS PENAWARAN

Di samping elastisitas permintaan, dalam ilmu ekonomi juga dikenal istilah elastisitas penawaran. Setelah memahami penjelasan mengenai elastisitas permintaan di atas tentunya kamu dapat menebak definisi dari elastisitas penawaran, bukan? Elastisitas penawaran adalah besarnya perubahan jumlah penawaran suatu barang atau jasa sebagai akibat dari perubahan harga.

Elastisitas penawaran mengukur seberapa banyak jumlah barang yang ditawarkan mengikuti perubahan harga barang tersebut. Penawaran suatu barang dikatakan elastis, jika perubahan harga mengakibatkan perubahan besar jumlah yang ditawarkan. Sedangkan penawaran dikatakan inelastis, jika perubahan harga mengakibatkan sedikit perubahan jumlah yang ditawarkan.

Elastisitas penawaran terhadap harga ditentukan oleh ke-luwesan penjual mengubah jumlah barang yang diproduksi. Untuk barang yang sulit diubah kuantitasnya, seperti tanah, penawarannya cenderung inelastis. Sedangkan untuk barang manufaktur, seperti buku dan televisi, penawarannya cenderung elastis, karena penjual dapat memacu produksi ketika harga naik, atau menguranginya ketika harga turun.

Kita dapat menghitung koefisien elastisitas penawaran (Es) dengan rumus di bawah ini.
Rumus Koefisien Elastisitas Penawaran

TINGKAT ELASTISITAS PENAWARAN


Penghitungan koefisien elastisitas penawaran mempunyai lima kemungkinan hasil berikut ini.

  1. Penawaran Elastis.
    Situasi ini terjadi apabila nilai koefisien elastisitas penawaran lebih besar dari satu, atau dengan kata lain, bila persentase perubahan penawaran lebih besar dari persentase perubahan harga. Sebagai contoh, harga tas di sebuah toko naik dari Rp 14.000 menjadi Rp 14.500. Ini mengakibatkan jumlah penawaran naik dari 1.000 menjadi 3.000. 
  2. Penawaran Inelastis. Situasi ini terjadi bila nilai koefisien elastisitas penawaran kurang dari satu, atau dengan kata lain, bila presentase perubahan penawaran lebih kecil dari persentase perubahan harga. Sebagai contoh, harga tepung terigu di suatu daerah naik dari Rp 6.000 menjadi Rp 7.000 per kilogram, dan jumlah penawaran naik dari 1.400 kg menjadi 1.500 kg
  3. Penawaran Elastis Uniter. Situasi ini terjadi terjadi bila nilai koefisien elastisitas penawaran sama dengan satu, atau dengan kata lain, bila presentase perubahan penawaran sama dengan presentase perubahan harga. Sebagai contoh, harga sepasang sepatu naik dari Rp 30.000 menjadi Rp 35.000. Sebagai akibatnya, jumlah penawaran naik dari 600 menjadi 700. 
  4. Penawaran Elastis Sempurna.
    Situasi ini teriadi bila nilai koefisien elastisitas penawaran sama dengan tidak terhingga. Ini merupakan situasi di mana apabila terjadi perubahan harga, walaupun sedikit, akan mengakibatkan perubahan jumlah penawaran yang sangat besar.  Misalnya, bila harga turun sedikit penawaran akan menurun tajam, atau bahkan habis sama sekali. Bila harga naik sedikit, maka jumlah penawaran juga akan melonjak tajam. 
  5. Penawaran Inelastis Sempurna. Situasi ini terjadi bila nilai koefisien elastisitas penawaran sama dengan nol. Ini terjadi bila perubahan harga sama sekali tidak mempengaruhi jumlah penawaran. Dengan kata lain, pada tingkat harga berapa pun, jumlah penawaran akan selalu tetap. 
Penghitungan koefisien elastisitas penawaran sebagai berikut

0 comments:

Post a Comment

 

de Social Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos